Gubernur Kaltim Menegaskan Penting nya Menjaga Hutan, Berpotensi Menjadi Pendapatan Baru
- calendar_month Senin, 15 Jun 2026
- visibility 75
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MTN-KALTIM, Gubernur Kaltim Rudy Masud menegaskan keberadaan hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyangga lingkungan, tetapi juga telah menjadi sumber pendapatan baru melalui skema perdagangan karbon atau carbon trading.
Rudy Masud, Juga mengatakan Bahwa keberhasilan menjaga hutan telah akan Membawa Kaltim menjadi salah satu daerah terdepan Nantinya di dalam program pengurangan emisi gas rumah kaca di tingkat internasional.
Sehingga Pencapaian tersebut mampu menghasilkan berbagai macam bentuk insentif bagi daerah.
“Hutan kita mampu menghasilkan 89 juta dolar Amerika Serikat,” ungkap Rudy Masud.
Bahwa program perdagangan karbon yang dijalankan di Kalimantan Timur itu,tidak hanya Pada aspek lingkungan saja, namun tetap melibatkan masyarakat setempat sehingga Mulai tingkat Pedesaan serta komunitas komunitas di kawasan pesisir.
Dan carbon trading Kaltim (Indonesia) juga menjadi barometer di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya.
Dalam rangka menjaga kelestarian hutan telah mengantarkan Kalimantan Timur memimpin pelaksanaan program pengurangan emisi gas rumah kaca berskala internasional.
pengurangan emisi tersebut tercatat berada pada kisaran 22 juta hingga 30 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂eq).
Prestasi itu juga membuka peluang masuknya kompensasi dan dukungan pendanaan internasional, salah satunya melalui program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) yang difasilitasi Bank Dunia.
Perdagangan karbon itu sendiri merupakan mekanisme berbasis pasar yang bertujuan menekan emisi gas rumah kaca dengan memberikan nilai ekonomi terhadap setiap ton karbon dioksida yang berhasil dikurangi atau diserap.
Keberadaan kawasan hutan yang masih luas di Kalimantan Timur turut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan karbon dunia yang mengedepankan solusi berbasis alam, seperti restorasi mangrove dan pemulihan lahan gambut.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 4,5 juta hektare wilayah daratan di Kalimantan Timur saat ini menjadi prioritas konservasi.
Kawasan tersebut diperkirakan menyimpan potensi stok karbon sebesar 35 hingga 58 persen dari total wilayah yang ada.
Selain kawasan daratan, wilayah pesisir juga dinilai menyimpan potensi ekonomi karbon yang besar.
Kawasan mangrove di Kalimantan Timur diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi karbon biru (blue carbon), dengan target konservasi yang mencakup ribuan hektare di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, dan Paser.
Melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis sektor perdagangan karbon dapat terus berkembang sebagai sumber pendapatan daerah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan upaya pelestarian lingkungan.
- Penulis: Kaperwil Kaltim:Yos Partoyo Tobing

Saat ini belum ada komentar