Proyek Galian Pipa Air di Cinere Mangkrak dan Gelap: Warga Macet, Mandor ade Bungkam,Anggaran di Sembunyikan
- calendar_month Friday, 4 Sep 2026
- visibility 96
- comment 0 comment
MTN-DEPOK – Yang ada hanya galian menganga dan tumpukan karung. Yang tidak ada: pekerja yang jelas, informasi anggaran, dan rasa tanggung jawab.
Proyek galian pipa air bersih milik PT Tirta Asasta Depok (Perseroda) di Kecamatan Limo, Kota Depok, tepatnya di depan area SAMSAT Cinere, terpantau amburadul.
Pantauan Kamis (3/9/2026) pukul 11.53 WIB menunjukkan galian terbuka memanjang di bahu jalan tanpa pengamanan memadai.
Transparansi Nol, Publik Dipaksa Buta
Sesuai UU Keterbukaan Informasi Publik, setiap proyek yang menggunakan dana publik wajib memasang papan informasi. Isinya wajib memuat: nama kegiatan, nilai anggaran, sumber dana, pelaksana, dan durasi pengerjaan.
Di titik ini? Tidak ada.
Tidak terlihat satupun papan proyek di lokasi. Publik tidak tahu proyek ini menelan uang berapa, dikerjakan oleh rekanan mana, dan akan selesai kapan.
Mandor lapangan bernama Ade saat dikonfirmasi juga tidak memberikan penjelasan terkait detail proyek. Akses informasi publik seolah dimatikan.
Jalan Macet, Warga yang Menanggung
Akibat galian yang dibiarkan terbuka dan material berupa karung tanah serta puing berserakan di badan jalan, arus lalu lintas di ruas Cinere – Limo tersendat.
Pengendara roda dua dan empat harus saling mendahului di jalan yang menyempit.
“Yang rugi kita. Jalan rusak, macet, debunya kemana-mana. Papan anggaran aja nggak ada.
Ini proyek buat siapa?” keluh seorang warga sekitar yang enggan disebut nama.
Fakta di lapangan memperkuat aduan warga: hanya terlihat 2 orang pekerja dengan rompi, sementara galian panjang dibiarkan tanpa rambu, lampu peringatan, atau pembatas yang layak.
Risiko kecelakaan sangat tinggi, terutama malam hari.
*PT Tirta Asasta: BUMD, Tapi Kerja Sembunyi-sembunyi*
Sebagai BUMD milik Pemkot Depok, PT Tirta Asasta seharusnya menjadi contoh tata kelola yang baik.
Faktanya, proyek vital air bersih ini dikerjakan tanpa keterbukaan dan standar K3 sama sekali.
Tidak ada papan proyek. Tidak ada jadwal jelas. Tidak ada pengawas.
Yang ada hanya galian berbahaya dan material yang dibiarkan berhari-hari.
Ini bukan sekadar kelalaian teknis. Ini bentuk pelecehan terhadap hak publik untuk tahu kemana uang mereka dibelanjakan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Tirta Asasta Depok dan Mandor Ade belum memberikan keterangan resmi.
Pertanyaannya sederhana: Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa anggarannya ditutup-tutupi?
- Author: Andar B Simanjuntak: Kabiro Jaksel

At the moment there is no comment