MTN,JATIM,-BANYUWANGI – Indonesia memegang peran strategis dalam forum tingkat kawasan, memimpin pembahasan pengembangan kota cerdas pada The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2026, dengan menetapkan pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai agenda utama kerja sama ASEAN.
Delegasi nasional dipimpin Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, yang juga menjabat sebagai National Representative sekaligus Shepherd ASCN.
Meskipun pertemuan tahunan ini semula dijadwalkan berlangsung di Filipina selaku ketua ASCN 2026, situasi kawasan memaksa pelaksanaan secara daring, dengan Banyuwangi ditunjuk sebagai pusat pelaksanaan delegasi Indonesia.
Penunjukan ini bukan kebetulan, melainkan pengakuan atas rekam jejak Banyuwangi sebagai anggota ASCN sejak 2015 dan konsistensi pengembangan kota cerdas yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kontribusi Nasional yang Mengukuhkan Kepercayaan ASEAN
Dalam forum, Safrizal memaparkan kemajuan implementasi kota cerdas di Indonesia yang kini melibatkan enam kota anggota: DKI Jakarta, Banyuwangi, Makassar, Sumedang, Semarang, dan Denpasar. Berdasarkan Laporan Pemantauan dan Evaluasi ASCN 2025, kontribusi proyek Indonesia mencapai 13,4 persen dari total 134 inisiatif di seluruh kawasan ASEAN.
Proyek yang dijalankan mencakup transformasi layanan publik, penguatan ekonomi lokal, mobilitas perkotaan, pelayanan kesehatan berbasis teknologi, hingga konservasi lingkungan.
Keikutsertaan Semarang dan Denpasar sebagai anggota baru ASCN sekaligus menegaskan kepercayaan kawasan terhadap komitmen dan kapasitas Indonesia dalam mengembangkan konsep kota cerdas yang inklusif.
Agenda Prioritas: Sampah sebagai Tantangan dan Peluang Bersama
Sebagai Shepherd ASCN tahun ini, Indonesia membawa pendekatan komprehensif pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, berbasis Gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan pemerintah, serta percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy/WTE).
“Kami ingin menjadikan ini model kolaborasi regional, demi mewujudkan kota yang lebih bersih, tangguh, dan rendah emisi,” tegas Safrizal.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengundang seluruh anggota ASEAN menghadiri Indonesia International Smart City Expo and Forum (IISMEX) 2026 pada 11–13 Agustus di Jakarta, yang juga akan menyelenggarakan forum khusus pengelolaan sampah perkotaan.
Pembangunan kota cerdas, tambahnya, bukan sekadar penerapan teknologi semata, melainkan fondasi tata kelola yang baik, peningkatan kualitas layanan publik, dan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.
Banyuwangi: Kota Cerdas yang Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa pengembangan kota cerdas di daerahnya tidak berhenti pada digitalisasi, melainkan diarahkan untuk menyelesaikan tantangan nyata masyarakat: pengentasan kemiskinan, peningkatan pendidikan dan kesehatan, penanganan stunting, serta pengelolaan sampah.
“Kami membangun sistem berbasis data dan kolaborasi lintas pihak, agar manfaat teknologi benar-benar dirasakan hingga ke desa-desa, dan tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah semata,” ujar Ipuk.
Kepercayaan menjadikan Banyuwangi sebagai pusat pelaksanaan delegasi Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai contoh implementasi kota cerdas yang tidak hanya canggih, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan.
At the moment there is no comment